eramuslim

Kategori: Oase Iman

Lonceng Kematian Menjelang Ramadhan

Dini meninggalkan kesan tersendiri bagi saya. Saya selalu teringat senyum manisnya, dengan jilbab merah jambunya yang menjuntai ke dada, baju merah jambu serta rok kotak merah bata yang ia kenakan terakhir kali kami bertemu. DINI, begitu dini Alloh memanggilnya kembali. Saya yakin Allah lebih menyanyanginya. Saya yakin Dini kini tersenyum bertemu Rabb-Nya.

Baca selengkapnya →

Puasa adalah Pembukti Iman

Saya merasa kasihan kepada mereka pekerja bangunan itu sebab dengan pekerjaannya itu mereka jadi memilih untuk tidak berpuasa. Saya yang kecil waktu itu tidak berfikir jauh tentang nasib keluarga andai mereka tidak bekerja di bulan Ramadhan. Pikiran saya alangkah sayangnya jika orang tidak bisa berpuasa di bulan Ramadhan.

Baca selengkapnya →

Memetik Makna Dari Majlis Nikah

”Jikalau kemesraan yang dicontohkan rumah tangga Nabi ini dapat dihadirkan di setiap rumah tangga kita, masihkah berlaku ungkapan ” rumput tetangga kelihatan lebih hijau dan segar daripada rumput di pekarangan sendiri”?. Hmmm, mestinya gugurlah makna ungkapan itu. Sebaliknya akan tumbuh pengakuan, bahwa tidak ada rumput yang lebih hijau dan lebih segar selain rumput yang tumbuh di pekarangan rumahku sendiri.

Baca selengkapnya →

Nenek Pedagang Tempe

Seperti biasa sebelum ia terlelap tidur ba’da shalat Isya ia membuat tempe agar dapat di jual esok pagi nya di pasar. Agar adonan kacang kedelai sempurna menjadi tempe maka harus di diamkan semalam. Setelah setelah selesai membuat adonan dan memasukannya kedalam cetakan tempe si nenek beranjak tidur

Baca selengkapnya →

Lebih Baik Imitasi, Atau Tidak Sama Sekali

Bagaimanapun sebagai seorang suami, hatinya tak tega melihat sang istri yang sangat dicintainya harus merelakan satu-satunya perhiasan yang tersisa untuk menutup kebutuhan hidup, paling tidak sampai dua minggu kedepan, saat ia mendapatkan gaji dari pekerjaannya yang hanya sebagai seorang karyawan rendahan di sebuah perusahaan kecil.

Baca selengkapnya →

Tersenyum Dong, Mang Oding!

Mang Oding adalah salah seorang orang tua murid. Artinya, anaknya disekolahkan di sekolah kami, Majelis Anak Sholeh. Pekerjaannya Satpam kompleks. Pekerjaan yang memberinya seragam yang membuat ia tampak gagah. Karena kami tahu gaji Satpam kompleks tidaklah besar, kami memberikan keringanan uang masuk sekolah dan SPP untuk anaknya. Keringanan ini bukan dari kami sebenarnya, tapi dari teman-teman kami yang telah bersedia menyisihkan dananya ke kami, untuk kami kelola.

Baca selengkapnya →

Jalan Hidayah Seorang Atlet

Tak lama kemudian seorang lelaki berusia dua puluh tahunan dipersilakan masuk ke dalam masjid. Lelaki itu bernama Kameda. Dia adalah salah seorang mahasiswa di Universitas Otani, Kyoto. Selanjutnya pemuda itu duduk menghadap ustad Takeda. Lalu tanpa dikomando, jamaah Jumat yang berasal dari berbagai negara, mendekat dan mengelilingi pemuda tadi untuk menjadi saksi.

Baca selengkapnya →

Rindu

Gembira, haru dan was-was…… itulah yang aku rasakan saat pertama kali mendengar kabar kepindahan kami ke negeri orang. Aku gembira menanti petualangan baru di depan mata, aku terharu mendengar keberhasilan suami tercinta menggapai citanya, namun aku juga was-was akan kemampuan diri, mengingat aku baru saja melahirkan anak ke-3 dan terbayang semua pekerjaan rumah tangga yang harus ditangani sendiri tanpa khodimat (mbak). Sanggupkah nanti ?

Baca selengkapnya →

Gajian Tanggal 15

Mungkin ada yang bertanya, memberi gaji kok senang? Bukannya menerima gaji baru senang? Kalau memang ada yang bertanya demikian, kami akan menjawab bahwa tentu saja kami senang bisa memberi gaji, sebagaimana kami juga senang jika menerima gaji. Kami senang memberi gaji – tepat waktu lagi – karena itu berarti kami sudah bisa amanah, memberikan hak orang yang sudah menolong kami. Kami senang karena masih punya rejeki untuk itu. Kami senang karena biasanya wajah Bu Iyah akan kelihatan lebih sumringah dari biasanya.

Baca selengkapnya →

Saat Jilbabku Memanjang

Bicara jilbab, ternyata sangat menarik. Kebetulan ibu-ibu di lingkunganku tinggal, mayoritas berjilbab. Memang sih walaupun menggunakan jilbab hanya untuk keluar rumah. Ada juga yang berjilbab bila hanya menghadiri majlis ta’lim. Bahkan ada juga yang berjilbab dengan alasan, sekarang lagi jamannya. Nah, untuk yang terakhir ini, terasa menggelitik juga khan?! Tapi, aku tetap bersyukur karena jilbab sepertinya sebuah kebutuhan di masyarakat saat ini, apapun alasan yang mendasarinya. Iya nggak?!

Baca selengkapnya →