Bung, Saya Tidak Paham

Dalam setiap perjuangan, selalu saja ada yang berkhianat, mengkhianati perjuangan, mencari keuntungan diri. Dahulu di zaman revolusi perjuangan ada. Sekarang pun, ada!  Tentu, bentuk pengkhianatannya berbeda-beda.

Sekarang ini, ketika hampir semua lapisan masyarakat berjuang untuk mengatasi pandemi Covid-19, ada saja orang-orang yang mencari untung di tengah kemalangan, di tengah penderitaan. Ada yang korupsi dana bantuan sosial. Ada yang menaikkan harga obat-obatan. Ada yang memungli biaya pemakaman korban Covid-19, seperti yang terjadi di Bandung beberapa waktu lalu. Bahkan, ada yang membuat jaringan mafia kremasi jenazah korban Covid-19.

Bukankah semua itu adalah bentuk pengkhianatan. Pengkhiatan terhadap  nilai-nilai luhur kemanusiaan. Pengkhianatan terhadap  hati nurani. Bukankah, setiap manusia mempunyai hati nurani yang menuntut manusia untuk berlaku berdasarkan prinsip-prinsip moral, seperti bertindak adil, benar, dan jujur. Tuntutan tersebut bersifat mutlak atau tidak bisa ditawar-tawar, bukan berdasar pertimbangan untung atau rugi, bukan pula berdasarkan perasaan senang atau tidak senang; juga bukan karena alasan politik ataupun idiologis.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa hati nurani berarti kesadaran moral yang tumbuh dan berkembang dalam hati manusia. Keinsafan akan adanya kewajiban. Hati nurani merupakan penerapan kesadaran moral di atas dalam situasi konkret. Suara hati menilai suatu tindakan manusia benar atau salah, baik atau buruk.

Bung, masih ada bentuk pengkhiantan lainnya. Mereka yang menyebarkan berita bohong, informasi salah, menghasut, dan memprovokasi; yang mengajak-ajak untuk demonstrasi yang hanya akan membuat situasi tambah tidak karuan di tengah situasi yang kritis ini, di tengah kesusahan rakyat; yang menyerukan untuk menjatuhkan pemerintah yang sah; yang membuat pernyataan-pernyataan politik yang asal ngritik untuk cari simpati; yang memecah belah bangsa dengan membawa-bawa agama adalah juga pengkhianat. Pengkhianatan terhadap rakyat, terhadap bangsa yang tengah berjuang mengatasi pandemi Covid-19.

Mengapa, Bung, kita tidak bisa bersatu padu, bergandeng tangan, bahu-membahu, saling dukung mengatasi kondisi negeri sekarang ini dengan menyisihkan kalau perlu membuang jauh-jauh kepentingan diri, kepentingan kelompok, kepentingan partai? Bahwa ada banyak kekurangan dalam mengatasi pandemi Covid-19 ini, memang benar.

Tetapi, harus diakui pula bahwa semua pihak—para dokter, perawat, tenaga kesehatan, relawan, tentara, polisi, masyarakat kebanyakan sampai tingkat paling bawah—telah berjuang keras, harus pula diakui dan dihargai. Bahwa pemerintah sudah mengeluarkan dana begitu banyak untuk melindungi rakyat yang tengah kesusahan dan menderita, juga harus diakui. Ada kekurangan? Iya. Tetapi, kiranya prinsip salus populi suprema lex, kesehatan rakyat merupakan hukum tertinggi, terus diupayakan.

Maka menganggap bahwa pemerintah tidak berbuat apa-apa, adalah sungguh anggapan yang absurd, yang tidak berakal, yang tidak berhati nurani. Yang menganggap bahwa pemerintah tidak berbuat apa-apa adalah mereka yang menutup mata dan hatinya, meninggikan ego dan kesombongan dirinya.

Bahwa bangsa ini mengahadapi krisis, itu benar. Bahwa bangsa ini tengah menghadapi tantangan berat, itu juga benar. Yakni berkait dengan pandemi Covid-19. Tetapi, bukan berarti hal itu menjurus kepada krisis politik nasional.