eramuslim

Warnet Apa Penitipan Anak, Bang!

Memasuki warnet para user-nya bukan dari kalangan anak-anak remaja, orang dewasa maupun orang tua melainkan dari kalangan anak-anak berusia empat sampai enam tahun membuat saya geleng-geleng kepala. Saya yang baru kali iti melihat warnet yang konsumennya anak-anak dibawah umur merasa terkejut juga. Kalau saya sebagai pemiliknya sudah saya wanti-wanti. ANAK DIBAWAH UMUR DILARANG MASUK! Tapi warnet yang saya masuki saat itu tidak melarangnya malahan dibiarkan aja! Sungguh terlalu!

“Ini warnet atau penitipan anak, Bang!” seru saya asal goblek saat saya mau masuk ke dalam warnet mau browsing yang ternyata di dalamnya banyak anak-anak dibawah umur berseliweran. Mondar-mandir. Bahkan ada yang lagi asyik main (baca:pengguna) dari sekian banyak anak-anak yang mondar-mandir. Saya yang melihat seperti itu hanya ngelus dada. Prihatin!

“Ya, nih kalau sore-sore begini paling banyak anak-anak yang main,” ucap pemilik warnet tanpa aling-aling. Enak banget ngomongnya! Tidak dicerna lagi. Kalau apa yang diomongi itu suatu kesalahan besar. Membiarkan anak-anak dibawah umur ikut menjadi pengguna warnet di dalamnya.

Saya yang mendengar jawaban dari pemilik warnet itu tidak percaya kalau ia akan berkata. “Heh, Bang nih warnet apa penitipan anak,” bathin saya bete saat menerima jawaban si pemilik warnet tadi. Bukannya apa-apa saya sebagai orang yang memiliki tanggung jawab terhadap generasi muda otomatis saya protes. Memangnya generasi berikutnya mau seperti yang terdahulu pada rusak moralnya. Gara-gara makin edannya dunia. Terlebih adanya tekhonologi modern. Membuat moral anak manusia ikutan-ikutan rusak seperti yang saya lihat di warnet saat saya masuki itu.

“Lha, Bang memangnya abang nggak ngelarang,” lanjut saya lagi. Tapi ucapan saya kali ini tidak dijawab olehnya. Pemilik warnet. Ia diam saja kayak sapi ompong. Mungkin karena saya terlalu banyak omong kali. Tapi karena saya takut generasi bangsa akan rusak terpaksa saya yang patriotismenya tinggi harus tanggung jawab juga. Dikarenakan pundak negara ini akan ditanggung oleh mereka. Generasi muda. Generasi yang lagi pada mondar-mandir dan lagi main di warnet yang saya hampiri itu

Lama Menunggu jawaban dari si pemilik warnet tiba-tiba dari balik pembatas untuk pengguna internet datanglah keponakan saya dua orang. Alamak…ternyata ada keponakan saya sebagai user-nya juga. Asyik main game online. Saya yang saat itu lagi bete menunggu jawaban si pemilik warnet jadi tambah senewen melihat para keponakan saya dua orang yang masih pada duduk di bangku Sekolah Dasar ada di dalamnya.

“Lagi ngapain?” tanya saya kepada para keponakan saya itu. Kebetulan hari itu saya lagi bermain ke rumah kakak perempuan saya untuk bermalam seharian. Dan juga bertepatan hari libur, hari Sabtu jadi saya sempati main ke rumah kakak perempuan gue itu.

“Lagi main game online, Om,” jawabnya seenak perut keponakan saya yang paling besar. Keponakan saya yang saat itu masih duduk di bangku kelas 6 SD. Saya yang mendengar jawabannya asal gobleknya itu lansung saja muka saya berubah jadi Megaloman. Ingin mengluarkan amarahnya. Tapi saya tidak sebegitunya akhirnya saya hanya nasehati mereka saja.

“Pulang sana! Anak kecil nggak boleh main di warnet,” kata saya bijak. Maklumlah saya ingin menjadi Om atau paman yang paling bijak dihadapan mereka walau pun saya sebagai Om atau paman belum begitu sempurna dihadapan saya sendiri.

“Kok, Om nggak pulang sama Amri dan Izal,” jawabnya mengajak saya pulang bersama-sama mereka. Saya yang ditanya itu diam sejenak. Bingung mau berbalik pulang bersama sama mereka atau tidak. Soalnya saya mau browsing untuk cari sumber tulisan.

Lama saya berpikir mencari solusinya terpaksa akhirnya saya pulang juga. Ya, ini demi keponakan saya juga dan menghindari mereka untuk tidak mampir lagi ke warnet yang masih dekat di depan rumahnya itu. Walaupun saya harus mengorbani keinginan saya demi keponakan saya itu.

Sesampai di rumah kakak perempuan saya akhirnya saya kembali lagi ke warnet yang masih dekat dari rumah kakak perempuan saya. Dengan sekembalinya ke warnet saya ingin meneruskan hajat saya. Mau browsing cari sumber bahan tulisan. Tetapi saat saya baru sampai di warnet tiba-tiba di belakang saya ada si pemilik warnetnya.

“Itu keponakannya, ya?”

“Iya. Memang mereka sering kemari, ya?” lanjut saya lagi meminta kepastian dari si pemilik warnet yang sejak tadi telah membuat saya bete habis dengan jawaban-jawaban yang asal goblek itu.

“Lha memangnya abang tiak melarang mereka main disini.

Tak ada jawaban. Lagi-lagi bungkam si pemilik warnet. Tidak mau menjawab pertanyaan saya itu.

Beberapa saat kemudian saat saya lagi menunggu jawaban darinya datanglah segerombolan anak dibawah umur mau masuk ke dalam warnet miliknya. Saya yang melihat segerombolan anak kecil sebanyak itu hanya geleng-geleng kepala. Nih warnet apa penitipan anak. Ya, gimana nasib generasi akan datang ya? Kalau anak-anak dibawah umur seperti mereka sudah pada kenal warnet. Bathin saya tidak habis-habisnya berkata. Saat itu juga akhirnya saya pun angkat kaki. Ngaciiir, batali niat untuk browsing. Akibat saya sudah ilfil untuk main di warnet yang mirip penitipan anak.(fy)

Kampung Rawa, Kebayoran Lama, 10 Mei 2009



Penulis adalah penulis Buku Bela Diri for Muslimah: Perempuan Bukan Makhluk Yang Lemah. Ingin silaturahim kunjungi: fb/imel:[email protected]. Atau, http://sebuahrisalah.multiply.com.