Sebelum Wudhu' Harus Minta Izin Nabi Khidhir?
Senin, 7 Jul 08 06:20 WIB
Assalamu alaikum wr. wb.
Pak ustadz yang saya hormati,
Saya mau bertanya mengenai masalah wudhu dan shalat. Saya pernah diberitahu oleh seseorang bahwa bila hendak berwudhu kita harus terlebih dahulu meminta izin kepada sang pemilik air yaitu nabi Khaidir.
Apakah memang betul seperti ini adab sebelum berwudhu?
Kemudian mengenai shalat pak ustad. Pernah sekali waktu saya ketemu dengan seseorang yang mengatakam bahwa shalat orang awam seperti say aini bukan menyembah Allah, melainkan asma Allah saja.
Oleh karena itu saya dianjurkan untuk bertasawwuf agar saya tidak sekedar menyembah nama.
Demikian pertanyaan saya pak ustad. Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih. Saya pengunjung baru di blog ini.
Rmt
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sebelumnya kami ucapkan selamat datang di situs ini, yaitu Eramuslim dot com. Sekedar sedikit klarifikasi, situs ini bukan blog, melainkan portal Islam. Blog sangat berbeda dengan portal. Mohon dimaklumi.
Harus Minta Izin Nabi Khidhir?
Tentang keharusan minta izin kepada Nabi Khidhir sebelum berwudhu, memang ada yang janggal dan ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab.
Pertama, siapa yang bilang bahwa Nabi Khidhir itu masih hidup? Kedua, siapa yang bilang bahwa Nabi Khidhir itu penguasa air? Dan kegia, siapa yang bilang bahwa seandaiya memang Nabi Khidhir itu masih hidup dan menjadi penguasa air, siapa yang bilang bahwa kalau mau wudhu' harus meminta izin dulu kepada dia?
Tentu kita tidak bisa hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan jawaban, "Katanya katanya", sebab agama Islam ini bukan agama 'katanya'. Untuk menjawab pertanyan itu harus didasari dengan ayat-ayat Quran yang jelas dan pasti. Setidaknya dengan hadits Rasulullah SAW yang shahih sesuai dengan kriteria ilmu hadits yang muktabar.
Sedangkan kalau cuma sekedar jawaban yang didasari oleh si anu dan si anu, tentu saja jawaban itu tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Dan sebagai muslim yang baik, haram hukumnya kita membuat khurafat macam itu, sebagai bentuk penyelewengan ajaran Islam yang asli, murni dan original, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Shalat Orang Awam?
Ketika Rasulullah SAW diutus kepada umat manusia dan mengajarkan shalat, beliau tidak pernah membeda-bedakan umatnya menjadi awam dan bukan awam. Sehingga tidak ada ajaran shalat yang berbeda, semua yang beliau ajarkan tentang shalat berlaku untuk semua lapis umatnya. Dan tidak ada pembagian awam atau bukan awam.
Lalu yang jadi pertanyaan, dari mana datangnya pembagian shalat untuk orang awam dan shalat untuk orang yang levelnya lebih tinggi? Apakah datang dari Rasulullah SAW ataukah datang dari pemikiran manusia saja?
Kalau dari Rasulullah SAW, jelas tidak ada keterangan apa pun tentang hal itu. Artinya, jalan berpikir seperti ini jelas-jelas buatan manusia. Ada orang yang menghayal terlalu jauh tentang adanya pembagian level manusia, menjadi awam dan di atas awam.
Lalu hayalannya berlanjut menjadi adanya shalat untuk orang awam dan untuk level lanjutan. Maka yang harus dijawab adalah: Manakah hadits shahih yang menjelaskan bahwa cara shalat seperti ini khusus buat orang awam, dan cara shalat seperti itu khusus buat orang yang bukan awam?
Kalau tidak ada hadits shahih, atau ayat Quran, maka jelas sekali bahwa jalan berpikir ini hanya lahir dari angan-angan dan bid'ah sesat buatan manusia. Rasulullah SAW tidak mengajarkannya sedangkan manusia mengarang-ngarang sendiri sesuatu yang tidak diajarkan. Ketika ritual ibadah sudah ditambahi di sana-sini dengan sekian banyak hayal yang tidak berdasar, maka saat itulah bid'ah telah terjadi.
Dan Rasulullah SAW tegas menyatakan bahwa kita diharamkan untuk membuat 'agama' baru dengan cara menambah-ambahi ajaran yang telah beliau ajarkan.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc





