Kedudukan Hadits Ana Madinatul Ilmi dan Ali Pintunya
Rabu, 6 Agu 08 06:17 WIB
Assalamu 'alaikum ustadz, semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan dan keluasan rizki buat antum sekeluarga, amin dan ya rabbal 'alamin.
Mohon ustadz kira memberikan sedikit waktu untuk menjawab pertanyaan kami. Begini ustadz, seringkali kami mendengar fatwa tentang kedudukan Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu. Salah satunya yang sering dikutip adalah hadits:
انا مدينة العلم وعلي بابها
Ana madinatul ilmi wa aliyun babuha (Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintu gerbangnya).
Yang jadi pertanyaan, bagaimana kedudukan hadits ini menurut para ulama, apakah hadits ini shahih atau bagaimana?
Mohon penjelasan dan sebelumnya kami ucapkan banyak terima kasih.
Wassalam
Zaen
gudangilmu@yahoo.com
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ali bin Abi Thalib adalah salah seorang yang pertama kali masuk Islam, setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Khadijah radhiyallahu 'anhuma. Sejak kecil beliau dididik dan dibina langsung oleh Rasulullah SAW, kemudian tumbuh menjadi pemuda yang berani.
Ketika Rasululah SAW mau dibunuh di malam hijrahnya, Ali bin Abi Thalib sangat berani menanggung resiko besar, karena beliau mau tidur di tempat tidur Rasulullah SAW. Padahal seandainya para pembunuh Quriasy itu marah, bisa saja Ali pun ikut jadi sasaran pembunuhan malam itu.
Tidak ada satu pun ulama yang meragukan kredibilitas Ali bin Abi Thalib, sepupu Rasulullah SAW. Bahkan beliau pernah menjadi Amirul Mukminin, pemimpin umat Islam, sepeninggal Abu Bakar, Umar dan Utsman ridwanullahi 'alaihim ajma'in.
Juga tidak ada yang meragukan ilmu yang dimiliki oleh Ali bin Abi Thalib. Karena beliau sudah berteman dengan Rasulullah SAW, bahkan jauh sebelum Rasulullah SAW diangkat menjadi nabi. Dibandingkan dengan para shahabat yang masuk Islam kemudian, maka Ali boleh dibilang paling senior. Walau pun usianya sangat belia.
Hadits Ali Gerbang Ilmu
Kita sepakat bahwa Ali bin Abi Thalib sangat layak untuk dikatakan sebagai pintu gerbang ilmu. Sebab kalau kita melihat sejarah hidup beliau, memang nyata sekali kemampuan ilmu beliau dalam masalah agama.
Kedudukannya sebagai khalifah saja sudah membuktikan bahwa beliau adalah orang yang punya kapasitas sebagai ahli ilmu.
Namun yang kita bicarakan bukan kredibiltas ilmunya Ali, yang kita bicarakan adalah tentang klaim bahwa Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa diri beliau adalah kota ilmu dan Ali adalah pintu gerbangnya.
Kita tidak bicara dari segi hakikatnya, namun kita bicara dari segi kritik haditsnya. Apa benar Rasulullah SAW itu pernah mengatakan secara eksplisit demikian?
Kalau memang benar, kira-kira siapa saja yang meriwayatkannya? Dan seperti apa kedudukan para perawi itu? Tsiqah apa tidak? Jalur periwayatannya nyambung apa terputus?
Ini memang urusan para ahli hadits (muhadditsin), bukan urusan kita yang awam dan tidak paham bagaimana mengkritisi sebuah jalur periwatan hadits.
Kedudukan Hadits: Palsu
Meski barangkali kita setuju dengan isinya, namun dari segi jalur periwayatan, apa yang disebut sebagai haditsi ini sangat bermasalah. Setidaknya menurut sebagai para ulama hadits.
Para ulama hadits banyak mengkritisi lafadz ini dan dengan tegas mereka menyebutkan bahwa lafadz ini bukan hadits nabawi.
Sebagian ada yang menshahihkan, ada juga yang menghasankan dan ada juga yang mengatakan bahwa hadits ini palsu.
1. Shahih
Tidak ada seorang ahli hadits pun yang menshahihkan hadits ini kecuali satu orang saja yaitu Abu Abdullah Al-Hakim. Dapat kita simak pernyataannya dalam kitabnya, Al-Mustadrak jilid 3 halaman 126.
2. Hasan
Sebagian lainnya mengatakan bahwa hadits ini hasan. Di antaranya adalah Al-Hafidz Al-Ala'i dalam kitab An-Naqdushahih lima'taradha 'alaihi min ahaditsil mashabih halaman 55.
Selain itu ada As-Sakhawi dalam kitab Al-Maqashidil Hasanah nomor 189 dan Asy-Syaukani dalam Al-Fawaid Al-Majmu'ah halaman 489.
3. Palsu
Para ulama hadits lainnya mengatakan bahwa kedudukannya adalah hadits palsu (maudhu'). Jadi bukan sekedar tidak shahih atau lemah (dha'if), namun sudah sampai derajat yang paling cacat, yaitu hadits palsu.
Yang mencacat hadits ini ternyata juga bukan orang sembarangan, tentunya mereka tidak asal jatuhkan vonis seenaknya. Nama-nama besar dalam dunia kritik sanad seperti Al-Bukhari, At-Tirmizy dan Al-Albani, kompak menolak hadits ini.
3.1. Al-Imam Al-Bukhari
Beliau mengomentasi hadits ini dengan ungkapan laisa lahu wajhun shahih, sebagaimana tertera dalam kitab Al-Maqashid Al-Hasaah karya As-Sakhawi hadits nomor 89. Juga sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmizy dalam kitab Al-'Ilal Al-Kabir jilid 2 halaman 942.
3.2. Al-Imam At-Tirmizy
Beliau sendiri mengatakan bahwa hadits ini: haditsun gharibun munkar. Silahkan rujuk ke dalam kitab Sunan At-Tirmizy jilid 5 halaman 637, ketika beliau membahasa tentang Manaqib Ali radhiyallahu 'anhu.
3.3. Ibnu Hibban
Dalam kitab Al-Majruhin jilid 2 halaman 94, Ibnu Hibban berkata: hadza syai'un la ashla lahu fi haditsi ibni Abbas.... Beliau juga dalam kesempatan lain berkomentar: wa hadza kabarun la ashla lahu 'aninnabiyyi shallallahu 'alaihi wasallam.
3.4. Al-Imam Ad-Daruquthuny
Beliau mengatakan demikian, beliau katakan: al-hadits mudhtharib ghairu tsabit. Bisa kita rujuk dalam kitab Al-'Ilal jilid 3 halaman 247-248.
3. 5. Al-Uqayli
Beliau menyebutkan tentang hadits ini: la yashihhu fi hadzal matni haditsun. Silahkan buka kitab Adh-dhuafa' jilid 3 halaman 150.
3.6. Nashiruddin Al-Albani
Juga termasuk mengatakan bahwa hadis ini adalah hadits palsu. Silahkan lihat dalam kita Dhaif Al-Jami' Ash-Shaghir jilid 2 halaman 10 hadits nomor 1410.
3.7. Ibnu Taimiyah
Dalam kitab Minhajussunnah jilid 7 halaman 515 dan Al-Fatawa jilid 4 halaman 410, Ibnu Taimiyah juga mencacat hadits ini sebagai bukan perkataan Nabi SAW.
3.8. Al-Imam An-Nawawi
Termasuk juga Al-Imam An-Nawawi, beliau pun tidak menerima hadits ini sebagai sabda Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hajar Al-Haitsami dalam kitab Ash-Shawa'iq Al-Muhariqah halaman 189.
3.9. Ibnu Daqiq Al-'Ied
Hal itu sebagaimana disebutkan oleh Az-Zarkasyi dalam kitab Al-Laa'i halaman 163-164.
Kesimpulan
Walau pun hadits ini menurut kebanyakan pakar hadits adalah hadits palsu, namun bahwa Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang punya banyak ilmu, tidak ada seorang pun yang meragukannya.
Kalau kita mau jujur dan menerapkan ilmu hadits yang kita miliki, maka ketika kita menyenandungkan nasyid ana madinatul ilm wa aliyu babuha, sebaiknya kita cantumkan keterangan bahwa ini bukan lafadz dari nabi Muhammad SAW. Sayangnya, justur lafadz sudah menggunakan kalimat langsung, sehingga susah untuk tidak mengatakan bahwa Nabi Muhammad-lah yang mengatakannya.
Seandainya saja lafadznya berbunyi: Muhammad adalah kota ilmu dan Ali adalah pintu gerbangnya, mungkin bisa jadi lain Tapi karena lafadznya sudah menggunakan dhamir 'ana', yang berarti saya, yaitu Muhammad, maka lafadznya saja sudah bermasalah. Lafadznya sudah mengklaim bahwa yang berkata adalah Nabi Muhammad SAW, padahal kedudukan periwayatannya sangat bermasalalah alias hadits palsu.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc





