Tentang Orang Miskin, Anies Tidak Sependapat Dengan Dedi Mulyadi
Eramuslim - Anies Baswedan tidak sependapat dengan pandangan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang menyalahkan orang miskin punya banyak anak. Pun tidak sependapat juga dengan Veronica Tan yang menjabat Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia yang pernah berujar jika ingin kaya maka jangan banyak anak.
Mantan Gubernur DKI Jakarta ini memberikan pandangan terkait isu yang belakangan ini menjadi perbincangan masyarakat, yakni orang miskin banyak anak.
Seperti diketahui, Dedi Mulyadi secara serampangan bahkan mengusulkan agar orang msikin penerima bansos, kepala keluarganya harus divasektomi dulu.
Adapun pertanyaan yang sering muncul yaitu, seputar kenapa orang miskin punya banyak anak?.
Melalui cuitannya di X @aniesbaswedan, doktor lulusan Harvard University dengan ijasah asli ini memberikan jawaban-jawaban yang beberapa diambil dari sudut pandang orang miskin sebagai bentuk empati.
"Kenapa orang miskin punya banyak anak? Pertanyaan itu sering muncul, kadang dengan nada sinis. Tapi mari jeda sejenak dan coba memahami dari sudut pandang mereka" tulis Anies Baswedan (4/5).
Menurut Anies, di dunia yang keras dan tak pasti, keputusan itu sering lahir dari naluri bertahan, bukan sekadar pilihan bebas.
Saat dunia tidak memberi jaminan, tak ada pensiun, tak ada tabungan, tak ada negara yang hadir, anak menjadi satu-satuya “aset” yang bisa diandalkan.
Mereka adalah harapan terakhir, yang bisa merawat, membantu pekerjaan dan ekonomi keluarga, atau sekadar menemani di usia senja.
Lebih lanjut, Anies menyebut ketika masa depan tampak kabur, manusia cenderung menggenggam apa pun yang mampu memberi makna hari ini.
Anak-anak, dalam pelukan dan tawa mereka, menawarkan rasa berarti. Di tengah hidup yang sering membuat kecil hati, keluarga jadi ruang terakhir untuk merasa dibutuhkan.
Akademisi yang telah meraih berbagai penghargaan nasional dan internasional ini menambahkan bahwa punya banyak anak juga dipandang sebagai “investasi sosial”.
Dalam kondisi tanpa kepastian, logika mereka sederhana, makin banyak anak, makin besar kemungkinan salah satunya bisa “naik kelas” dan menopang yang lain.
Dalam amatan Anies, orang miskin di Indonesia itu bukan disebabkan seorang yang malas bekerja. Orang miskin sudah banting tulang siang malam bekerja, namun tetap miskin. Kenapa?
"... Karena kemiskinan itu struktural, maka solusinya tentu juga harus sistemik," tulis Anies.
Ya, kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh sistem kekuasaan, dalam kata lain, pejabat-pejabat negara inilah yang melakukan pemiskinan terhadap rakyatnya, agar mereka dan kelompoknya bisa hidup makmur sejahtera.
Sistem yang tidak berkeadilan ini terus dipelihara agar para elit negara bisa melanggengkan posisi nyamannya, walau hidup dengan penuh kehinaan, tapi yang penting mereka dan keluarga bisa hidup dengan berkecukupan dan sejahtera. Masa bodo dengan rakyat yang selalu saja hidup dalam neraka kemiskinan dan kemelaratan. [kl]