Agama Monotheis?

Beberapa hari ini, surat kabar surat kabar di Indonesia memberikan liputan mengenai kunjungan Paus ke timur tengah. Sebuah harian ibu kota, tanggal 13 Mei 2009 memberitakan tentang ucapan paus yang menyampaikan bahwa agama agama Yahudi, Nasrani dan Islam memiliki “kesamaan” yaitu sama sama memiliki satu Tuhan (Monoteisme). Pandangan ini sangat sesuai dengan pandangan kaum liberal di Indonesia yang juga “menyamakan” semua agama terutama tiga agama yang dalam buku buku sekolah dikenal dengan agama langit yaitu Islam, Nasrani dan Yahudi.

Sebagai seorang muslim, kita tentu harus mengkritisi masalah ini. Di dalam al Qur’an, Allah swt berfirman bahwa hanya islam lah agama dari Nya dan agama yang diridho’inya.

Tulisan ini bukan ingin menyalahkan pernyataan Paus atau surat kabar yang menurunkan kabar ini, namun mencoba mengulas tentang sejarah agama agama yang dalam surat kabar itu dinyatakan oleh Paus sebagai agama monotheis.

Agama monotheis sendiri di sandarkan kepada nabi Ibrahim as yang kita kenal sebagai bapak para Nabi. Dari beliau alaihissalam-lah, “katanya” agama monotheis ini berkembang.
Dalam hal ini, satu hal yang perlu di garis bawahi bahwa, Ibrahim alaihissalam adalah seorang Muslim, bukan Yahudi dan bukan Nasrani.

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan juga seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali kali bukanlah dia termasuk orang orang musryk. Sesungguhnya orang yang paling dekat dengan Ibrahim ialah orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang orang yang beriman (kepada Muhammad) dan Allah adalah pelindung orang orang yang beriman. (QS Ali Imran 67-68)

Imam Ibnu Katsir dalam kisah para nabi dan rasul-nya menyatakan bahwa ayat ini merupakan bantahan dari Allah swt mengenai pengakuan orang orang Yahudi dan Nasrani berkaitan dengan pengakuan mereka bahwa Ibrahim berada di atas agama dan jalan mereka.

Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman.
“Dan Ibrahim telah berwasiat kepada anak anaknya, demikian pula Yakub. Ibrahim berkata: Hai anak anakku sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama islam” (al Baqarah, 132)

Begitu juga dengan nabi Musa alaihissalam dan nabi Isa alaihissalam merupakan seorang muslim yang diutus oleh Allas swt untuk menyampaikan risalah tauhid kepada umatnya. Mereka bukan Yahudi dan bukan Nasrani. Maka dari dulu sejak zaman nabi Adam as hingga akhir masa, hanya islam lah agama langit, agama yang langsung dari Allah swt.

Lalu bagaimana dengan Yahudi dan Nasrani.

Dalam bukunya, “The History of The Qur’anic Text” menyatakan bahwa “Istilah “kristen” tersebut tampak hanyalah bikinan propaganda Roma, sebab pada masa masa awal nama kristen itu diasosiasikan dengan segala macam kejahatan yang menjijikkan-hal ini merupakan ciri cirri umum propaganda politis, dan pengarang 1 petrus…mengingatkan para pembacanya agar jangan sekali kali menderita karena hal hal yang menurut khalayak ramai diimplikasikan atas nama ‘kristen’, misalnya seperti pembunuh, pencuri, pelaku kejelakan atau pelaku kejahatan.”

Dalam sebuah artikel yang di sebarkan di forum.swaramuslim.net di katakan bahwa sebutan kristen (cristian) sendiri bermula dari kota besar Antiokia di syria utara, sewaktu Barnabas dan Paulus menjalankan misinya di kota itu. Mereka tidak henti hentinya, menyatakan bahwa Jesus itu adalah kristos (al Masih) sehingga orang orang sekitarnya memanggil mereka (pengikut Yesus) dengan sebutan Christian (kristen). Sedangkan menurut Ahmad Deedat dalam “the real truth” nya, dikatakan bahwa “Kristus bukanlah sebuah nama, namun sebuah gelar. Kristus adalah terjemahan dari bahasa Yahudi dari kata Mesiah yang berarti di basuh atau di urapi (dengan minyak). Bahasa Yunani dari kata di “basuh atau di urapi” adalah Cristos sebagai asal kata Christ. ”

Dari uraian diatas kita dapat mengambil sendiri kesimpulan mengenai sejarah Kristen. Sedangkan sebutan Nasrani sendiri merupakan sebuatan untuk para pengikut Yesus yang pertama dari bangsa Nazareth, jadi nasrani berasal dari nama sebuah bangsa. Sedangkan Yesus (Isa as) sendiri tidak pernah mengatakan bahwa agama yang dibawanya itu adalah agama Nasrani.

Sedangkan Yahudi juga merupakan sebuah bangsa. Sejarah bangsa Yahudi sendiri bisa dirunut kepada salah seorang anak Yakub (Israil) yang bernama Yehuda.. Dalam sejarahnya, orang Yahudi, seperti yang dipaparkan oleh Prof M M Al-A’zami bahwa “ Catatan catatan tradisional Yahudi sendiri menyatakan bahwa tradisi mereka ternyata penuh dengan praktik praktik penyembahan berhala, paganisme dan seringnya pengingkaran terhadap keesaan Tuhan. Tujuan utama saya ( Prof M M Al-A’zami) ingin menunjukkan bahwa para pemeluk awal agama Yahudi tidak suka mengikuti nabi Musa dan risalahnya.”

Dari merekalah (para pemuka awal Yahudi) agama Yahudi dan teks PL berkembang dan di ajarkan. Dalam bukunya tersebut, M M Al-A’zami juga memaparkan bahwa teks teks PL telah beberapa kali hilang dan ditemukan kembali secara mengejutkan. Disinilah,dapat disimpulkan bahwa terjadinya perubahan pada teks tersebut bisa dipastikan.

Di tambah lagi adanya kitab Talmud yang “dipedomani oleh kaum Yahudi melebihi Taurat saat ini (PL)

Mengenai agama Islam, agama ini di dakwahkan oleh Rasulullah saw secara langsung kepada para sahabat. Para sahabat hidup bersama beliau, dekat dengan beliau, melihat wajah dan langsung mendengar kata beliau. Kemudian para sahabat ini mendakwahkan kepada para tabi’in yang juga dekat dengan mereka, dan melihat wajah mereka. Kata “Islam” sendiri merupakan “nama” yang “diberikan” Allah dalam Al-Qur’an (Al Ma’idah ayat 3) sebagai agama (tepatnya satu satunya agama) yang di ridho’I Nya.

Al Qur’an yang menjadi pedoman kaum Muslimin tetap terjaga keasliannya hingga akhir masa. Prof M M Al-A’zhami sendiri telah melakukan kajian mengenai hal ini dan telah dipaparkan dalam bukunya “The History Of The Qur’anic Text” serta mampu membantah anggapan orang orang yang meragukan atau mencoba membuktikan secara “ilmiah” tentang keaslian al Qur’an.

Sedangkan mengenai ayat 62 surat al Baqarah, menurut para ahli tafsir seperti imam Thabari yang dikutip oleh DR Syamsudin Arif dalam “Orientalis dan Diabolisme Pemikirannya” menyatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sahabat sahabat Salman al Farishi ra yang yang telah wafat sebelum sempat bertemu dengan Rasulullah saw, dimana menurut pengakuan Salman jika teman temannya ini bertemu dengan Rasulullas saw, maka mereka akan beriman kepada beliau Saw.

Rasulullah saw menyatakan kepada Salman bahwa “Mereka yang mati dalam agama Isa as sebelum mendengar seruanku maka baiklah keadaannya. Adapun mereka yang mendengar seruanku akan tetapi tidak beriman (tidak mengikuti seruan Rasulullah saw) maka binasalah dia” .
Maka ucapan yang menyatakan adanya kesamaan antara tiga agama Islam, Yahudi dan Nasrani perlu di kritisi lebih jauh lagi (kalau memang tidak ingin disalahkan).

Masalah ke-Tuhan-an merupakan dasar sebuah agama yang tidak bisa di toleransi lagi. Seorang muslim harus meyakini bahwa hanya islam lah agama yang di ridhoi Allah swt dan agama selain itu tertolak.

Imanuddin Rahman, Mahasiswa S1 FMIPA UI, Alamat Jl, Rawapule No 24 Kukusan Beji, Depok
Email:[email protected].