eramuslim

Proyek MRT Temukan Rel Trem Batavia di Depan Museum Mandiri Kota

Eramuslim.com - Proyek MRT Fase 1 yang menghubungkan Bundaran Hotel Indonesia dengan Stasiun Lebak Bulus di selatan Jakarta sudah dirasakan manfaat dan kenyamanannya oleh banyak warga Jakarta dan sekitar. Proyek ini pun berlanjut ke Fase 2 yang akan meneruskan jalur kereta bawah tanah ini dari kawasan Bundaran Hotel Indonesia sampai dengan utara Jakarta.

Dalam situs resminya, MRT Jakarta menulis: “Proyek pembangunan MRT Jakarta fase 2 membentang sepanjang sekitar 11,8 kilometer dari kawasan Bundaran HI hingga Ancol Barat. Fase 2 ini melanjutkan koridor utara—selatan fase 1 yang telah beroperasi sejak 2019 lalu, yaitu dari Lebak Bulus sampai dengan Bundaran HI. Dengan hadirnya fase 2 ini, total panjang jalur utara—selatan menjadi sekitar 27,8 kilometer dengan total waktu perjalanan dari Stasiun Lebak Bulus Grab hingga Stasiun Kota sekitar 45 menit. Jarak antarstasiun sekitar 0,6—1 kilometer dengan sistem persinyalan Kendali Kereta Berbasis Komunikasi (CBTC) dan sistem operasi otomatis tingkat 2.

Dalam pengerjaan proyek Fase 2 ini, yang termasuk akan melakukan eskavasi di sepanjang jalur Jalan Gajah Mada hingga terus ke kawasan Kota Tua, sebuah jalur yang dipercaya banyak mengandung ‘harta karun’ di dalam perutnya berupa situs-situs dan benda-benda bersejarah peninggalan era Kolonialis Belanda, turut digandeng Tim Arkeolog dimana mereka akan melakukan pemetaan dan penyelidikan terkait proyek agar tidak sampai merusak peninggalan bersejarah di sepanjang jalur proyek.

Sebelumnya, saat melakukan penggalian di 14 lokasi di Jalan MH. Thamrin dan kawasan Monas, PT MRT Jakarta sudah menemukan sejumlah artefak seperti tulang sendi dan gigi bovidae (hewan pemamah biak seperti kerbau, antelop, atau bison), pecahan keramik Cina, pecahan aneka keramik Eropa, peluru, botol tembikar, hingga koin Belanda, yang diperkirakan semuanya berasal dari abad 18 sampai 20 Masehi. Temuan itu semuanya kini ditempatkan di Visitor Center MRT Jakarta di dalam kawasan Monas.

https://www.youtube.com/watch?v=v4scrKri04E&t=10s

Dan akhir Agustus lalu, MRT Jakarta kembali menemukan dua pasang rel trem peninggalan Kolonial Belanda, di seberang Halte Trans Jakarta “Jakarta Kota”, tepatnya di depan Gedung Museum Mandiri.

"Kami lakukan investigasi arkeologi di depan Mandiri dan di situ memang ditemukan trem," kata Direktur Konstruksi MRT Jakarta Silvia Halim dalam forum jurnalis daring (31/8).

Bersama Dinas Kebudayaan DKI, Tim investigasi arkeologi MRT Jakarta melakukan penyelidikan temuan rel trem itu dan akan melaporkannya ke pihak terkait.

Dalam penelisikan Tim Arkeolog MRT Jakarta, di salah satu sisi rel temuan tersebut terpahat inisial BVW yang merupakan singkatan dari Bochum Verein Westfalen, yang menunjukkan rel tersebut kemungkinan dibuat di Kota Bochum, Jerman. Dan temuan dua pasang rel trem di depan gedung Museum Mandiri ini diperkirakan merupakan rel trem yang ditarik kuda (1869-1883), namun dalam perkembangan teknologi trem juga dipakai oleh Trem Uap (1883-1899), lalu Trem Listrik (1899-1954).

Sedangkan dua jalur rel trem ini, yang di sisi timur mengarah ke utara, tepatnya menuju Kasteel Batavia, sedangkan yang ke arah selatan, menuju kawasan Harmoni.

Sejarah Trem Batavia

Menurut Wikipedia, sejarah trem di Kota Batavia berawal dari sebuah trem kuda yang dioperasikan oleh Bataviasche Tramweg Maatschappij. Jalur trem kuda pertama di Batavia tersebut diresmikan pada tanggal 20 April 1869, jauh sebelum trem ada di negeri kincir angin dengan menggunakan lebar sepur (gauge) 1.188 mm, jalur tersebut menghubungkan Jakartakota dengan Weltevreden (kawasan Monas sekarang).

Kala itu trem kuda dapat menampung 40 penumpang dengan ditarik 3-4 kuda, pada April 1869 diperkirakan sebanyak 1500 penumpang telah dilayani dan pada September 1869 meningkat menjadi 7000 penumpang.

Pada tahun 1880 sebagai akibat dari kendala operasional yang dialami BTM dalam pengoperasian trem kuda, maka operasional BTM untuk sementara diambil alih oleh Firma Dummler and Co..

Selang dua tahun kemudian atau tepatnya pada tanggal 19 September 1881 Bataviasche Tramweg Maatschappij resmi berganti nama menjadi Nederlands-Indische Tramweg Maatschappij dan mengambil alih layanan trem Jakarta yang sebelumnya dikelola oleh Firma Dummler and Co..

Di era NITM tersebut dilakukan perombakan armada dan prasarana secara bertahap yang sebelumnya bertenaga kuda digantikan dengan tenaga lokomotif uap produksi Hohenzollern dimana lokomotif uap pertamanya dibeli sebesar ƒ 8.800 dan proses peralihan armada ini selesai pada tahun 1884 sementara itu layanan trem kuda ditutup mulai tanggal 12 Juni 1882. Layanan NITM mulai dibuka kembali pada 1 Juli 1883 dengan diresmikannya layanan trem uap bebarengan peresmian lintas Jakartakota–Harmoni.

Empat tahun setelah beroperasinya trem uap lintas Jakartakota–Harmoni, trem listrik pun hadir dibawah operasi Batavia Elektrische Tram Maatschappij (BETM) menjadikannya sebagai pesaing trem uap milik Nederlands-Indische Tramweg Maatschappij (NITM).

BETM mulai berkarier sejak diresmikannya lintas Jakartakota–Kebun Binatang Ragunan pada 10 April 1899 yang kemudian pada bulan November 1899 jaringan trem listrik ini diperpanjang sampai dengan Stasiun Tanah Abang, namun sayang perpanjangan jalur ini ditutup pada tahun 1904. Pada tahun 1900 BETM memperpanjang jaringan tremnya, menjangkau wilayah Jembatan Merah, Tanah Tinggi, dan Gunung Sahari dengan melintasi Sungai Ciliwung.

Sebagai akibat perselisihan antara NITM dengan BTM maka kedua perusahaan mulai memberlakukan tiket transit dan jadwal khusus di jam sibuk. Pada 31 Juli 1930 keduanya digabung menjadi Bataviasche Verkeers Maatschappij (BVM). Hasil dari pembentukan BVM tersebut menggabungkan 1 lijn trem uap, 2 lijn trem listrik, dan 7 rute bus yang dioperasikan NITM dan BETM.

Dibawah kendali Bataviasche Verkeers Maatschappij (BVM), trem Jakarta mengalami perubahan yang signifikan, terutama pada lintas-lintas warisan NITM dilakukan program elektrifikasi secara bertahap dari April 1933 sampai dengan 1934. Hasil dari elektrifikasi ini menjadikan waktu tempuh Jakartakota ke Jatinegara menjadi 47 menit memangkas waktu 10 menit. BVM mengalami puncak kejayaan pada tahun 1934 dimana mengoperasikan 5 lijn trem listrik dengan total panjang 41 kilometer.

Kemunduran era trem Jakarta dimulai pada tahun 1935 sebagai akibat dari Depresi Besar yang membuat keuangan BVM bermasalah. Moda transportasi bemo dan oplet muncul, mengancam popularitas trem listrik. Akhirnya layanan bus BVM ditutup dan perusahaan hanya akan berfokus pada layanan trem listrik saja. Layanan bus BVM baru dibuka kembali pada tahun 1941.

Pada zaman penjajahan Jepang yang singkat, perusahaan ini diambil alih dan dinamakan Perusahaan Jakaruta Shiden.

Usai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pada 13 Oktober 1945, perusahaan Jakaruta Shiden diubah namanya menjadi Trem Djakarta-Kota, yang pada 1957 dinasionalisasi menjadi Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD). Walaupun diambil alih, PPD hanya mengoperasikan trem tersebut selama beberapa waktu dan dihapuskan karena dianggap tidak cocok dengan tata ruang kota besar. Berakhirlah masa kejayaan trem di Jakarta. [rz]