Berpakaian Tetapi Telanjang

oleh Milasari Astuti Jumat, 08/05/2009 14:12 WIB Cetak |  Kirim |  RSS

”Di hari yang cerah ini aku bersiap-siap untuk menghadiri pesta pernikahan temanku di sebuah gedung. Bersama suami dan ketiga anakku akhirnya kami berangkat, karena kebetulan memang tidak ada khodimat yang harus aku titipkan, jadilah kondangan membawa ”pasukan”, walaupun kadang malu ( he..he.. karena keliatan yang makan banyak amat, amplopnya cuman 1 ), tapi Bismillah aku luruskan niat bahwa semua ini untuk ibadah bukan untuk mengganti apa yang sudah aku makan.

Terlihat anak-anakku ceria sekali, bukan karena banyak makanan tapi karena ada sarana rekreasi yang inovatif (he..he...he..) sambil ngeliatin pengantinnya yang dandanannya kayak boneka, dan juga tamu-tamunya yang pakaiannya juga tidak kalah bagus dengan pengantinnya. Dalam hati aku bergumam jikalau tamu yang bajunya indah ini di dudukkan di kursi pengantin mungkin masih pantes dia jadi pengantin (ih..konyol..he..he..).

Karena di pesta ini tamu laki-laki dan tamu perempuan dipisah, akhirnya aku makan hanya bersama anakku yang berumur dua setengah tahun, sedangkan kakak-kakaknya bersama suami. Ketika aku sedang asyik makan, anakku yang bungsu dengan bahasa cadelnya berceloteh ”Mi, yat tu tantenya teyanjang”. Aku yang sedang sibuk menghabiskan makanan hanya menjawab ”ya..ya..,, jawaban yang instan karena sekedar merespons apa adanya celotehan anak-anak.

Tapi setelah beberapa detik aku berpikir ulang, apa maksud anakku bicara seperti itu yach?? Segera aku menoleh ke orang yang di maksud anakku itu. Hampir aku tertawa geli, berhubung tidak ada suami aku simpan geliku dalam hati.

Yang dimaksud anakku ”teyanjang” itu, ternyata dia melihat ada seorang wanita muda, tidak memakai jilbab, menggunakan pakaian kebaya cukup bagus, hanya saja ”ngepress” alias membentuk tubuh, berbahan brukat, dan kebetulan warnanya coklat muda/ sewarna kulit dimana lengannya tidak menggunakan puring (kebayangkan...)..

Jadi secara tersirat mungkin anakku ingin bilang ”Mi, tante ini pake baju tapi seperti telanjang”. Hi....hi..hi..... lucu..
Anak kecil saja bisa berkomentar seperti itu..., apalagi yang dewasa, ah.... dalam hati aku berdo’a, jika memang mba ini seorang muslimah semoga diberikan hidayah-Nya sehingga mengerti dan melaksanakan tentang adab-adab berpakaian yang sesuai syari’at Islam.

*****
Fenomena saat ini sudah terbiasa kita melihat wanita-wanita yang berbusana ketat, jangankan yang tidak berjilbab yang berjilbabpun sudah tertular, sehingga fungsi jilbab yang seharusnya untuk menutupi dada sudah diabaikan. Karena itu sering kita mendengar ”jilbab cekek”, karena memang benar-benar hanya sebatas”nyekek” leher.

Memang seharusnya kita masih perlu banyak belajar bagaimana Islam mengajarkan berbusana secara Islami tapi tetap trendy.

Kita tentu sudah sering mendengar bahwa beberapa syarat berbusana Islami itu diantaranya menutup aurat, tidak transparan, tidak membentuk tubuh dll...

1.“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. an Nur:31).
2. Lajnah Daimah (Komite Fatwa Para Ulama’ Saudi) pernah mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Apakah seorang perempuan diperbolehkan memakai pakaian ketat?
Jawaban Lajnah Daimah, “Seorang perempuan tidak diperbolehkan untuk menampakkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya atau keluar ke jalan-jalan dan pusat perbelanjaan dalam keadaan memakai pakaian yang ketat, membentuk lekuk tubuh bagi orang yang memandangnya. Karena dengan pakaian tersebut, perempuan tadi seakan telanjang, memancing syahwat dan menjadi sebab timbulnya hal-hal yang berbahaya. (Fatawa al Mar’ah, 2/84, dikumpulkan oleh Muhammad Musnid).

Semoga kita bisa terus belajar dan mengajarkan kepada orang lain, dan pelajaran itu bisa di dapat dari manapun sekalipun hanya dari seorang bocah dua setengah tahun.

Jakarta. 07/05/2009.Teruntuk sholeh kecilku yang cerdas muhammad.


(Arsip Oase Iman)

Redaksi menerima kiriman artikel untuk rubrik Oase Iman. Kirimkan artikel anda melalui FORM yang kami sediakan.

BPRS Harta Insan Karimah, Bersama dalam Usaha dan Ibadah

Tak banyak bank syariah seperti BPRS Harta Insan Karimah. Meski tak sebesar bank umum syariah, BPRS HIK mampu menerapkan manajemen perbankan yang baik dan akuntabel serta mampu memelihara ruh syariah dalam diri para pegawai. Satu poin yang patut ditiru oleh bank berlabel syariah lainnya.

Meredam Keraguan Demi Selamat Dunia Akhirat

0leh: Khoiriyati Kusumaningtyas. Saya termasuk golongan masyarakat yang sejak awal mendukung 100% perbankan syariah. Keraguan itu justru muncul di saat Bank Syariah booming bagaikan jamur di musim hujan, kira-kira tahun 2006-an. Saat itu saya bertanya.tanya, mengapa semua bank konvensional mengadakan program syariah

Laba yang Adil, Margin tiap Bank dan Rumus Umum KPR iB

Tanya : Berapakah margin yang ditentukan oleh KPR Syariah untuk pinjaman sebesar 100 jt dengan angsuran selama 6 tahun ? apakah masig-masig daerah penetapan margin tersebut berbeda, bagaimana dengan margin untuk lokasi di daerah Depok dan DKI, kalau tidak salah dalam Al .Quran atau Hadist disebutkan untuk besaran nilai keuntungan seseoramg dari penjualan adalah maksimal 10%

Bank Syariah di Minimarket

uchiemasdar.blogspot.com Ide ini muncul saat saya berkunjung ke kota Metro di provinsi Lampung. Siapa nyana, ternyata di kota kecil tersebut, jaringan Indomaret dan Alfamart bertebaran di mana-mana. Sebagaimana transaksi di minimarket, masyarakat sekitar sudah akrab dengan alat pembayaran seperti Debit Card BCA, BNI, dan Mandiri.

BNI iB OTO, Pembiayaan untuk Pembelian Kendaraan

BNI iB Oto merupakan pembiayaan untuk pembelian kendaraan dengan proses yang mudah dan cepat berdasarkan syariah. Uang muka relatif ringan dan pembayaran dapat dilakukan secara debet otomatis. Keunggulan: 1. Rasa tenteram dan tenang karena dengan pembiayaan syariah terhindar dari transaksi yang ribawi. 2. Selama masa pembiayaan besarnya angsuran tetap dan tidak berubah sampai lunas.

 

Anak Ngambek Tidak Mau Sekolah

Bagaimana menghadapi sikap anak saya yang saat ini berusia 6 tahun 2 bulan, baru 2 minggu masuk SD yang jam belajarnya full day (pulang sekolah pukul 14.30). Pekan ke-2 ini dia malah ngambek (menangis dengan keras dan tidak mau ditinggal)

PELUANG