eramuslim

Dalam Gelap Mereka Melihat Cahaya

Bismillah,

“Teman-teman SD 1, ayo kita berangkat….!”. Begitulah cara akrab guru wali kelas anakku di sekolah alam memanggil murid-muridnya. Tak berapa lama, anak-anak yang tengah dan selalu asyik bermain itu pun berhamburan mendekati beliau. Dalam hitungan tiga, mereka sudah berkumpul membuat barisan.

Pagi yang cerah di Bulan Ramadhan mengawali kunjungan anakku bersama 21 orang teman sekelasnya ke sekolah luar biasa (SLB) di kawasan Jakarta Selatan. Kami, para orang tua murid menyambut baik program sekolah yang sarat nilai positif seperti ini. Anak-anak diajak untuk belajar berempati kepada sesama sekaligus menanamkan rasa syukur kepada Sang Kholik.

Tak semua orang tua boleh ikut serta. Aku sangat gembira bisa ikut berpartisipasi mengantar mereka. Tentu saja anakku tak kalah senangnya mendengar ibunya ikut menemaninya sepanjang hari. Pukul 08.15 dengan ditemani empat orang guru, kami pun berangkat menuju lokasi.

Kehadiran kami diterima dengan hangat oleh guru-guru dan kepala sekolah dari pihak sekolah SLB-A. SLB-A adalah sekolah khusus untuk para tuna netra. Rupanya pihak sekolah sudah sering kedatangan tamu dari berbagai sekolah sehingga mereka terlihat begitu mafhum bahkan tersenyum geli saat melihat tingkah polah anak-anak kami yang baru lepas mengenyam TK (taman kanak-kanak) ini, serentak menyerbu area bermain yang luas dan teduh yang tersedia di halaman sekolah SLB.

Aku melihat sekeliling. Gedung sekolah tampak sudah tua namun masih terawat dengan baik. Gedung ini mampu menampung siswa SD sampai SMA. Jumlah muridnya hanya sekitar 50 orang. Halaman parkirpun cukup luas dan teduh. Suasana yang tenang dan menentramkan, jauh dari hiruk pikuk klakson dan kendaraan lalu-lalang.

Tak lama, kami dipandu menuju ruang musik. Kami melewati kelas-kelas yang sunyi dan tenang dengan diisi tak lebih dari 6 siswa. Kami hanya mengunjungi murid-murid tingkat SD. Tak terdengar suara anak-anak mengobrol dalam kelas. Tak ada derap langkap kaki berlari. Lain halnya dengan suara anak-anak kami dari sekolah alam yang terus asyik berceloteh diselingi derap sepatu mereka berlarian ke sana-kemari memecah keheningan yang ada di sana, kontras sekali rasanya.

Di sepanjang teras kelas terlihat ada satu baris ubin memanjang yang memiliki pola dan tekstur yang berbeda. Semula aku tak begitu memedulikannya. Namun aku tersadar bahwa sebaris ubin yang kasar teksturnya itu menjadi panduan untuk memudahkan siswa-siswi SLB-A (tuna netra) menuju kelasnya masing-masing. Subhanalloh, hatiku bergetar haru.

Kami memasuki ruang musik yang bersih dan kedap suara. Seorang guru (sebut saja Bu Tina) sudah menanti kami di sana. Sambil tersenyum beliau membuka acara dan langsung mengajak anak-anak bernyanyi. Beliau paham ada beberapa anak kami yang terlihat tegang dan sedikit ketakutan dengan situasi yang baru. Bu Tina mampu mencairkan suasana sehingga menjadi lebih rilek. Dengan riang anak-anak hanyut terbawa irama musik diiringi sebuah organ tunggal yang dimainkan dengan mahir oleh seorang siswa tuna netra!

Kami meninjau beberapa kelas yang sedang melangsungkan kegiatan belajar mengajar. Anak-anak berkenalan dengan siswa-siswi di sana. Kami jadi belajar tentang arti perbedaan dalam persamaan. Ya, kami memiliki tujuan yang sama yaitu sama-sama belajar namun proses yang kami lalui caranya berbeda.

Siswa SLB-A tidak mengenal pensil sebagai alat tulisnya. Mereka menggunakan alat tulis yang disebut ‘reglet’. Dengan alat ini mereka menulis huruf braille dengan cara menekan membuat titik-titik sebagai huruf dan angka. Cara membacanya dengan meraba titik-titik timbul tersebut.

Bowo (bukan nama sebenarnya) mencontohkan bagaimana cara membaca titik-titik timbul yang rasanya asing bagi kami. Siswa kelas 4 SD ini sudah mampu membaca huruf braille dengan lancar. Anak-anak kami memperhatikan dengan seksama bahkan beberapa anak ikut mencoba belajar menulis huruf Braille bersama mereka.

Buku-buku pelajaran yang bertuliskan huruf braille memiliki lembaran yang lebar dan tebal. Walaupun demikian, kurikulumnya tetap disesuaikan dengan kurikulum Diknas. Tak sedikit siswa-siswi SLB yang berotak cemerlang mampu bersaing dengan siswa sekolah umum lainnya mengikuti UAN (ujian akhir nasional) yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Kegiatan belajar tidak melulu hanya terpaku pada belajar menulis dan membaca huruf braille. Siswa-siswi SLB pun mengenal istilah meronce membuat kalung dan membentuk dengan dough (lilin). Lilin pastel yang dibuat oleh siswi kelas tiga tak kalah cantiknya lho! Persis seperti bentuk pastel yang dijual-jual di toko kue ternama. Kegiatan ini penting untuk melatih keterampilan meraba yang menjadi andalan utama mereka. Gerakan motorik halus dan kasar banyak bertumpu pada jemari tangannya.

Jika dengan penglihatan, anak kita mampu meronce dalam hitungan menit, tentu tidaklah demikian jika meronce dengan cara meraba. Namun tak ada keluh kesah terdengar dari mereka. Mereka belajar dengan sabar dan ikhlas. Sesekali para guru menggoda mengajak mereka bercanda. Sesekali pula tersungging senyum-senyum manis di bibir-bibir mungilnya.

Sebagai sesama hamba ALLOH, anak-anak pun belajar berpuasa di bulan Ramadhan dan belajar mengaji. Al-qur’an yang digunakan tentu saja harus menggunakan huruf braille sehingga disebut Al-qur’an Braille. Satu juz ditulis dalam satu jilid besar, sehingga ada 30 jilid buku untuk satu buah Al-qur’an. Luar biasa! Aku jadi teringat sebuah pepatah lama, di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan.

Di akhir acara, anak-anak sekolah alam berbaur dan bernyanyi bersama dengan siswa-siswi SLB-A. Tak ada rasa minder dalam diri mereka. Semua tersenyum dan tertawa riang bersama. Tak lupa kami sempatkan berfoto bersama sambil memberikan sedikit tanda mata sebagai ungkapan sayang anak-anak sekolah alam kepada anak-anak SLB-A.

Anak-anak yang ceria, menatap masa depan dengan penuh harap. Tak tahukah kalian? Kalian adalah anak-anak yang istimewa, manusia-manusia pilihan yang telah menggenggam tiket surga di tangan. Aku salut padamu, walaupun engkau melihat dunia dalam gelap namun engkau mampu mengisi dunia dengan terang, dari hatimu yang bercahaya.

“Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukanlah mata itu yang buta, melainkan yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS Al-Hajj [22] : 46)

Semoga anak-anak kami khususnya aku pribadi mampu mengambil pelajaran berharga dari kunjungan ini. Pelajaran tentang arti sebenarnya sebuah kesabaran dan keikhlasan dalam menerima setiap takdir-NYA. Utamanya lagi tentang makna dan arti rasa syukur atas segala limpahan nikmat-NYA yang tak terhingga kepada kita semua.

Wallohu’alam bishshowaab.

(mkd/bintaro/31.08.2010)