eramuslim

Mandikan Aku Bunda...

anak8Eramuslim.com - Bisa jadi cerita ini fiksi belaka, karena sejak kami menerima kisah ini sekian tahun yang lalu, nama identitas yang dikisahkan tidak pernah diketahui, tapi ambillah manfaat agar kita semua kaum ibu mendapatkan ibrahnya, selamat menikmati dan mengambil manfaatnya :

Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan

memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya

sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang

akan digelutinya. ''Why not the best,'' katanya selalu, mengutip seorang

mantan presiden Amerika.

Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di

Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih

memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat

pendamping yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda

profesi.

Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf

diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah

kebahagiaan mereka.

Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah

''alif''

dan huruf terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya

tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang

pertama dan terakhir.

Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani

semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu

kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Setulusnya saya

pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk

ditinggal-tinggal? ''

Dengan sigap Rani menjawab, ''Oh, saya sudah mengantisipasi segala

sesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itu betul-betul ia buktikan.

Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby

sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif

tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.

Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang

itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar,

tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak. ''Contohlah

ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.'' Begitu selalu nenek Alif,

ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.

Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik.

Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali

menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk

menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini

''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek

minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan

perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali

ngambek.

Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh

ceria.

Maka, Rani menyapanya ''malaikat kecilku''. Sungguh keluarga yang

bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap

tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif

menolak dimandikan baby sitter. ''Alif ingin Bunda mandikan,'' ujarnya

penuh harap.

Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia

menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan

keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi

dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian

menurut, meski wajahnya cemberut.

Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda, mandikan aku!''

kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir,

mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak

lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa

ditinggal juga.

Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter.

''Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.''

Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah swt

sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil

pulang oleh-Nya.

Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia

shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah

memandikan putranya.

Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen

untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.

Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil

terbaring kaku. ''Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,'' ucapnya lirih,

di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari

sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri

mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu,

berkata, ''Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya

ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga

kan?'' Saya diam saja.

Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung

seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ''Ini

konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat.

Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.

Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas

tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis,

lebih-lebih tangisan yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan

Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..''

Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.

Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.

Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat. (gh/ijk)