Genteng dari Bahan Asbes, Amankah?
Kamis, 17 Jul 08 13:36 WIB
Assalamu'alaikum wr. wb.
Apa kabar ustadz (boleh kan disebut ustad, waktu saya kecil, saya diberi tahu bahwa arti ustadz itu adalah "guru." Bolehlah Pak Andan ini disebut guru arsitektur Islami, setuju?)
Begini Pak Andan, saya pernah membaca artikel tentang bahayanya menggunakan material bangunan berbahan asbes yang katanya bersifat karsinogenik. Nah, masalahnya didaerah saya ini pernggunaan atap bangunan berbahan asbes masih banyak dijumpai, termasuk rumah yang sedang dan akan saya tempati.
Sehubungan dengan hal itu, apakah ada trik-trik atau resep dari Pak Andan yang bisa saya aplikasikan untuk mengeliminir (menghilangkan bahkan?) dampak negatif dari bahan asbes tersebut.
Besar sekali harapan saya agar Pak Andan bersedia menjawab pertanyaan saya ini saya udah posting 2 pertanyaan di rubrik "ustad menjawab" dan "konsultasi kesehatan", namun sampai sekarang statusnya "masih dalam proses." Mudah-mudahan pertanyaan yang ini nasibnya beda.
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Endriko
iko_san@plasa.com at eramuslim.com
Jawaban
Assalaamu'alaikum wr wb
Alhamdulillah saya dan rekan-rekan di sini dalam keadaan baik. Sehat wal afiat. Semoga Pak Endriko juga dalam keadaan yang sedemikian rupa. Terima kasih atas perhatiannya pada eramuslim.com, semoga kami tetap eksis di jalan dakwah layar maya ini.
Saya pun terkenang akan guru saya dulu. Ust. Ahmad Madani Allahu Yarham. Semoga Allah melapangkan kuburnya dan menjadikan taman-taman surgawi. Dulu saya pernah curhat padanya. Karena beberapa orang memanggil saya ustadz. Sementara saya merasa belum cukup umur dan belum pantas untuk disbut demikian.
Biarlah sebutan itu melekat. Orang yang menilai. Bukan kita yang meminta. Ia klelak akan menjadi penjaga iman kita. Karena dengan demikian kita jadi semacam dipaksa berbuat baik. Itulah pesannya. Ya. Saya satuju. lebih baik dipaksa berbuat baik. Dari pada sukarela berbuat maksiat. Lalu kemudian bisa ditingkatkan dengan berbuat kebaikan dengan ikhlas.
Pak Endriko yang saya hormati, negri kita adalah negara berkembang yang masih saja dilanda krisis. Bukannya saya tidak memperhatikan efek samping dari asbes tersebut. Namun daya beli masyrakat yang rendah dan pemerintah yang acuh tak acuh akan hal ini yang membuat asbes masih menjadi bahan atap favorite.
Murah dan mudah. Cepat dan dan ringan. Jauh sekali dengan harga genteng. Karena genteng juga memerlukan kayu yang banyak. Bedanya bisa sampai 30 hingga 50 persen. Inilah daya tarik utamanya.
Saya sudah berdiskusi hal ini dengan ahli kimia yang sering berkecimpung dengan bahan kimia yang banyak digunakan oleh masyarakat banyak. Asbes dalam hal ini memang membawa racun. Namun racunnya sangat kecil. Pengaruhnya akan terasa berpuluh tahun kemudian pada orang yang bekerja rutin di bawah asbes tanpa plafond, seperti buruh kasar yang bekerja pada pabrik-pabrik tradisional.
Jadi untuk rumah tinggal cukup diberi plafond.Hingga rambatan racun bisa tertahan. Jika ingin sempurna lagi di atas plafond tersebut diberi plastik cor yang murah. Selain melapisi plafond ia juga berfungsi sebagai penahan atau antisipasi kebocoran.
Inilah kenyataan lapangan yang ada dengan rendahnya taraf ekonomi masyarakat. Jikapun saya mendapat amanah menjadi eksekutif yang dapat menentukan kebijakan maka saya lebih akan memperhatikan perbaikan ekonomi dulu. Baru setelah daya beli masyarakat baik dan sehat mulai dikurangi hal-hal yang tidak baik.
Dalam kasus ini yang selektif tentu negri-negri maju seperti Jepang, Jerman atau negara setaraf mereka. Hingga jika stadard perekonomian kita meningkat otomatis kualitas hidup masyarakat akan naik pula.
Demikian tanggapan saya Pak Endriko. Semoga bermanfaat. Dan mohon maaf atas 2 posting pertanyaan di rubrik lain yang mungkin belum terjawab. Hal ini lebih dikarenakan keterbatasan kami. Doakan agar kami dari hari ke harii semakin bertambah baik.
Akhirul kalam,
Wassalaamu'alaikum wr wb
Ir. Andan Nadriasta - arsitek@eramuslim.com





