Jokowi Dituding Punya Kapal Tambang, “Seneng banget saya. Alhamdulillah punya kapal”

Eramuslim.com - Nama Presiden ke-7 Joko Widodo dan Ibu Iriana kembali menjadi perbincangan setelah dua kapal tongkang bernama JKW Mahakam dan Dewi Iriana dikaitkan dengan aktivitas pertambangan nikel di Raja Ampat.
Isu ini mencuat setelah kapal-kapal dengan nama mirip Presiden dan Ibu Negara disebut-sebut mengangkut hasil tambang nikel dari Papua Barat Daya. Menyikapi kabar tersebut, PT IMC Pelita Logistik Tbk (PSSI), selaku pemilik kapal, menyatakan bahwa penamaan kapal JKW Mahakam dan Dewi Iriana tidak ditujukan untuk merujuk pada tokoh publik mana pun. Nama-nama tersebut dipilih berdasarkan pertimbangan internal perusahaan, dan mengacu pada wilayah operasional di Kalimantan Timur, terutama Sungai Mahakam.
Berdasarkan data dari Direktorat Perkapalan dan Kepelautan (Ditkapel) Kemenhub, tercatat ada delapan kapal yang menggunakan nama JKW Mahakam, dan enam kapal bernama Dewi Iriana. Sebagian besar kapal ini dimiliki oleh PSSI dan anak usahanya, PT Pelita Samudera Sreeya (PSS). PSSI sendiri merupakan perusahaan publik di bidang pelayaran dan jasa logistik laut, yang mengangkut komoditas seperti batu bara, nikel, dan pasir silika antar pulau maupun ekspor.
Mayoritas saham PSSI dikendalikan oleh PT Indoprima Marine, yang juga menguasai sebagian besar saham PSS. Indoprima dimiliki oleh PT Himpunan Primajaya, yang pemegang sahamnya oleh Constant Marino Ponggawa dan Al Hakim Hanafiah. Constant Marino Ponggawa merupakan salah satu pendiri Hanafiah Ponggawa & Partners (sekarang Dentons HPRP). Pada 2004 – 2009, Constant menjabat sebagai anggota DPR di DPR RI fraksi Partai Damai Sejahtera (PDS) dengan jabatan wakil ketua di Komisi VI yang meliputi perdagangan, perindustrian, investasi, koperasi – usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) – badan usaha milik negara dan daerah (BUMN & BUMD), dan masalah terkait standardisasi nasional.
Selain PSSI dan PSS, beberapa kapal dengan nama serupa juga dimiliki oleh perusahaan pelayaran lainnya, seperti PT Sinar Pasifik Lestari, PT Permata Lintas Abadi (PLA), dan PT Glory Ocean Lines. Perusahaan-perusahaan ini bergerak di bidang pelayaran niaga, khususnya untuk kebutuhan industri tambang seperti batu bara dan nikel. Selain PSSI, perusahaan lain juga memiliki kapal bernama JKW Mahakam dan Dewi Iriana. Tak banyak informasi terkait perusahaan tersebut. Namun, terdaftar sebagai registered shipowner & commercial manager, menangani aspek kepemilikan dan komersial kapal. Kantornya berlokasi di Blok G, Jalan Boulevard BGR 20, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara. Berikutnya, Kapal JKW Mahakam 7 dimiliki oleh PT Permata Lintas Abadi (PLA). Ini merupakan perusahaan pelayaran privat, fokus di bidang tugboat and barge untuk industri pertambangan seperti bijih nikel dan batu bara. PLA telah beroperasi selama lebih dari 23 tahun.
Adapun, Kapal JKW Mahakam 2 dimiliki oleh PT Glory Ocean Lines. Didirikan pada sekitar 2009, perusahaan pelayaran Indonesia ini mengkhususkan diri dalam angkutan kering (dry bulk) dan minyak/kimia secara internasional. Perusahaan beroperasi di Asia Tenggara, termasuk rute dari Kalimantan ke China, kegiatan di perairan Batam, Taiwan, China, Vietnam, dan Malaysia. Sementara itu, dua kapal bernama Dewi Iriana lainnya dimiliki oleh PT Sinar Pasifik Lestari dan PT Permata Lintas Abadi. Sinar Pasifik Lestari pemilik Dewi Iriana 6 dan Permata Lintas Abadi pemilik Dewi Iriana 8.
Dengan Klarifikasi dari pihak perusahaan dan data kepemilikan menunjukkan bahwa nama tersebut dipilih berdasarkan wilayah operasi dan bukan karena keterkaitan politik atau keluarga.
Jokowi menanggapi santai. "Ya kalau ada tulisan JKW kemudian diartikan milik saya ya seneng banget saya. Alhamdulillah punya kapal, nanti ada truk tulisannya JKW lagi, "oh itu miliknya Pak Jokowi'. Nanti apalagi, ada pesawat ditulisi Jkw 'ha miliknya Jokowi lagi', kaya rayalah saya," ujarnya, di Solo, Jumat, 13 Juni 2025. Kendati demikian, ia mengaku tidak dirugikan jika namanya dikaitkan dengan kapal JKW Mahakam tersebut.
"Enggak, wong banyak kok tulisan di truk juga banyak. Saya lihat di bus juga ada. Biasa saja lah, tapi terus jangan dibelokkan, jangan diplintir. Dianggap baik," imbuhnya
Sumber: Ekonomi.bisnis.com dan MetroTV News