Iran Serang Israel Bukan untuk Bela Palestina, Pandangan Ferry Irwandi

Eramuslim.com - Ketegangan global meningkat seiring meletusnya kembali konflik antara Iran dan Israel. Di tengah beragam opini tentang alasan di balik aksi militer Iran, analis Ferry Irwandi menyampaikan sudut pandang yang berbeda. Ia menilai bahwa serangan Iran ke wilayah Israel bukan semata bentuk solidaritas terhadap Palestina, melainkan sebagai aksi balasan atas agresi Israel terhadap Iran.
Menurut Irwandi, tindakan militer Iran merupakan respons langsung terhadap serangan Israel pada 1 April 2024 yang menewaskan sejumlah komandan tinggi Iran di Damaskus, Suriah. “Iran bukan menyerang demi Palestina, mereka membalas karena lebih dulu diserang,” jelasnya. Hal ini, katanya, menegaskan bahwa motivasi Iran lebih bersifat mempertahankan kedaulatan nasional ketimbang intervensi atas dasar solidaritas keagamaan atau politik dengan Palestina.
Meskipun selama ini dikenal mendukung perjuangan Palestina dalam isu-isu kemanusiaan, Irwandi menekankan bahwa dalam kalkulasi geopolitik, Iran tetap mengutamakan kepentingannya sendiri. “Iran memang dari dulu berpihak pada Palestina, tapi mereka pasti menghitung kepentingan dan potensi kerugian,” ujarnya.
Irwandi menilai bahwa mengerahkan bantuan militer secara langsung kepada Palestina adalah keputusan yang penuh risiko dan tidak serta merta menguntungkan pihak yang membantu. Ia menekankan, “Kalaupun menang, mereka tidak dapat apa-apa. Tapi kalau kalah, taruhannya besar.” Ia juga menambahkan bahwa langkah seperti itu bisa mengacaukan stabilitas domestik negara-negara pendukung Palestina.
Menurutnya, bentuk dukungan paling realistis bagi Iran atau negara lain dalam konflik ini adalah partisipasi melalui misi perdamaian internasional. “Bantuan militer paling memungkinkan hanya lewat pengiriman pasukan penjaga perdamaian PBB,” kata Irwandi.
Pandangan ini memicu perdebatan luas di media sosial. Di satu sisi, banyak pihak menyerukan pentingnya menunjukkan solidaritas terhadap Palestina. Namun, Irwandi mengingatkan bahwa tindakan negara dalam konflik bersenjata tidak bisa semata didorong oleh semangat solidaritas, melainkan harus berpijak pada strategi, risiko, dan kepentingan jangka panjang.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa konflik ini berpotensi meluas ke kawasan lain, membawa dampak sistemik terhadap stabilitas regional. Oleh sebab itu, publik perlu memahami perbedaan antara dukungan diplomatik dan intervensi militer secara langsung.
Di tengah situasi yang terus berubah, Irwandi menilai bahwa kehati-hatian dan pendekatan rasional sangat diperlukan. Perspektif ini, menurutnya, dapat membantu masyarakat memahami dinamika sebenarnya di balik keputusan negara-negara yang terlibat dalam konflik bersenjata.
Sumber: Pelantar.id