Ini 4 Penghalang Rezeki yang Harus Diwaspadai
Eramuslim.com - Selain seni dan kunci dalam menjemput rezeki, ada pula hal-hal yang menjadi penghalang bagi sampainya rezeki kepada seorang hamba. Meskipun semua itu tetap berada dalam koridor taqdir Allah Ta’ala yang tak bisa diingkari.
Hendaknya kita memperhatikan hal-hal yang menghalangi sampainya rezeki sama seriusnya dengan upaya kita dalam menemukan kunci-kunci yang mengantarkan kita pada kemelimpahan rezeki. Berikut ini 4 penghalang reseki yang harus benar-benar diwaspadai. Jangan sampai ada pada diri Anda!
Bermalas-malasan
Malas asalnya dari setan. Mereka akan membisikkan rasa malas agar seorang hamba tidak melakukan perintah Allah Ta’ala. Menjemput rezeki merupakan salah satu ibadah unggulan. Setan akan mengerahkan seluruh strategi agar seorang hamba, khususnya kepala rumah tangga, bermalas diri dalam mengupayakan rezeki.
Lantaran malas, rezeki pun tidak sampai kepadanya, lalu berada dalam kemiskinan yang berakhir dengan kekufuran. Dalam berumah tangga, minimnya rezeki bisa berakibat pada perceraian yang merupakan salah satu proyek utama iblis dan seluruh tentaranya.
Buruk Sangka kepada Allah Ta’ala
Berburuk sangka kepada Allah Ta’ala dalam kaitannya rezeki adalah perasaan putus asa. Pesimis. Tiadanya keyakinan akan kepastian rezeki dari Allah Ta’ala. Sedikitnya kepercayaan bahwa Dia menjamin rezeki bagi seluruh hamba-Nya.
[caption id="attachment_237403" align="alignnone" width="624"]
AFP PHOTO/Jewel SAMAD[/caption]
Termasuk dalam berburuk sangka adalah mencurigai bahwa Allah Ta’ala tidak adik. Padahal, Dia Mahasuci dengan segala ucapan dan tindakan-Nya. Dengan anggapan ini, seorang hamba akan bertindak putus asa. Padahal, tidaklah seseorang berputus asa, melainkan dirinya akan digolongkan ke dalam kelompok kafir, yang ingkar kepada Allah Ta’ala.
“Sesungguhnya tidak berputuasa asa dari rahmat Allah, kecuali orang yang kafir.” (Qs. Yusuf [12]: 87)
Ketika seseorang telah memutus harapan dari Yang Mahakuasa, semangatnya pun akan melemah. Hilanglah semua motivasi positif dari dalam dirinya. Yang tersisa hanyalah buruk sangka, menyalahkan banyak pihak di luar dirinya, dan enggan melakukan muhasabah.
Sifat putus asa akan kian berbahaya jika terjadi terus menerus. Pada akhirnya, orang yang berputus asa akan bersikap kafir dan mengkhianati seluruh aturan yang disyariatkan oleh Allah Ta’ala.
Lantaran berputus asa, rezeki di depan mata pun akan dilewati, diabaikan, tidak dipedulikan. Sebab yang ada dibenaknya adalah, “Ini pasti gagal. Biasanya juga begitu.”
Rakus Terhadap Dunia
Setan yang dilaknat oleh Allah Ta’ala berperilaku sombong. Lantas, mereka membisikkan kepada Nabi Adam ‘Alaihis salam agar bersikap rakus. Rakus merupakan keburukan yang landasannya hanyalah asumsi. Hanya imajinasi.
Kepada Nabi Adam ‘Alaihis salam, setan membisikkan keabadian jika mau memakan buah yang masyhur dengan nama Khuldi. Ketika gagal, setan pun membisikkan hal itu kepada Siti hawa hingga kedua nenek moyang manusia ini benar-benar mendekati dan memakan buah tersebut, lantas keduanya diusir dari surga.
Lihatlah, kerakusan hanya menghasilkan keburukan. Rakus terhadap dunia tidaklah menghasilkan seucil pun kebaikan. Lantaran rakus, nafsu akan tumbuh subur hingga membinasakan pelakunya.
Dalam hal perburuan rezeki, pribadi yang rakus juga akan dibenci oleh sesama rekan kerja atau atasannya.
Boros dan Kikir
Boros juga sikap setan. Kebutuhan selalu melebihi penghasilan lantaran boros yang dituruti. Boros dalam hal makan dan minun, berpakaian, dan tempat tinggal, termasuk dalam berkendaraan. Lama-kelamaan, sifat boros akan mengantarkan seorang hamba pada kemiskinan karena harta yang dipergilirkan. Tidak semua orang ditakdirkan kaya dalam masa yang lama.
Sama buruknya dengan sifat boros adalah kikir. Malas menyalurkan harta di jalan Allah Ta’ala, padahal seluruh rezeki berasal dari-Nya. Sikap kikir akan menyengsarakan diri sendiri karena tidak mencukupi apa yang dibutuhkan oleh tubuh, membuat susah anak dan istri karena tidak membagi nafkah sebagaimana mestinya, dan membuat orang sekitar merasa benci karena tidak pernah mendapatkan kebaikan dari mereka.
jika boros membuat seorang hamba kehilangan harta dalam waktu yang cepat, kikir terkesan sebagai tindakan mengumpulkan harta, padahal ada kebinasaan yang terkandung di dalamnya. Tidaklah seorang hamba bersikap kikir dan sombong, melainkan dijauhi harta dan rezeki lain dalam segala maknanya. Hidupnya menjadi sempit, sukar, dan dipenuhi kesulitan yang tiada berujung.
Dua sikap yang salah terkait harta ini terbukti membinasakan generasi terdahulu dan generasi yang akan datang. Sebab tiada kebaikan yang termaktub di dalamnya.
Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]