Bertempat di Financial Hall, Financial Club Graha Niaga Lt.2 Jl. Sudirman Kav 58, Jakarta, seminar ini sudah dimulai sekitar pukul 8.30 WIB lebih.
Tidak menunggu lama, sessi I seminar pun dimulai. Dr. Iman Sugema (pengamat Ekonomi, ekonom Senior Intercafe) dan Drs. H. Fauzi Bahar, M.Si. (Walikota Padang) menjadi pembicara pertama.
Iman Sugema mempresentasikan kondisi zakat di Indonesia dan perbandingannya dengan negara-negara lain. Sedangkan Fauzi Bahar memaparkan pengalamannya dalam memberlakukan wajib zakat di Padang. Fauzi Bahar mendapatkan banyak sambutan yang luar biasa, karena ia menceritakan liku-liku selama ia menerapkan aturan itu.
Sessi kedua, Dr. Mustafa Edwin Nasution (Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia juga dari Tim PEBS UI)) dan Yusuf Wibisono, SE. ME., (peneliti dari CID) memaparkan Hasil Riset “Indoensia Zakat and Development Report 2009”.
Paparan ini menarik perhatian para peserta seminar, karena seperti yang diungkapkan oleh Mustafa Ediwin, “Kami ingin membuat semacam laporan seperti yang dibikin oleh World Bank setiap tahun. Laporan ini berisi evaluasi ekonomi dan kondisi zakat selama setahun kemarin dan kami harap bisa menjadi landasan poin bagi kita semua untuk melihat apa yang bisa kita lakukan di tahun 2009 nanti.”
Sedangkan Yusuf Wibisono menyita perhatian karena laporannya merupakan data-data akurat dan gagasan baru untuk dunia zakat di Indonesia. “Jika seluruh penduduk muslim Indonesia berzakat, maka negara ini tak perlu lagi melakukan pinjaman utang ke luar negeri.” Ujarnya yang langsung disambut meriah tepuk tangan semua peserta yang hadir. Nana Mintarti, DIrektur CID, menjadi moderator dalam sessi II ini.
Waktu break makan siang dan salat Dhuhur, CID mengadakan Konferensi Pers dengan tema “zakat dan Pembangunan: Era Baru Zakat Menuju kesejahteraan Umat”.
Setelah itu dilanjutkan dengan Sessi berikutnya, dengan H. Hilman Rosyad, Lc. (Wakil pimpinan Komisi DPR RI dan Anggota Dewan RI dari FPKS) sebagai pengisi utama.
Para peserta yang berjumlah hampir 200 orang dan mewakili berbagai institusi ekonomi Islam juga banyak memberikan masukan. Salah satunya agar seminar ini bisa juga diselenggarakan di daerah-daerah, dan Fauzi Bahar selaku kota Padang bisa menjadi role model dalam percontohan daerah yang menerapkan wajib zakat. (sa)
Dengan adanya perbankkan syariah pertumbuhan ekonomi akan semakin terjamin dari kehalalnya. Karena produk-produk yang di tawarkan oleh perbankan syariah adalah sebuah produk yang mana berlandaskan dengan hukum-hukum syariah yang telah Allah berikan dan diolah sedemikian mungkin sehingga masyarakat luas menjadi tahu.
Pengamat dan konsultan bisnis syariah terkemuka Indonesia, Adiwarman Karim, berani memproyeksi angka Rp101,1 triliun total aset perbankan syariah di 2010. Perhitungan itu hasil dari pertimbangan modal dan data historis pertumbuhan bank-bank syariah baru di 2010.
Ibarat rumah, perbankan syariah memiliki pondasi, pilar dan atap. Pondasi inilah yang menjadi dasar pembangunan bank syariah. Pembangunan pondasi harus kuat karena pondasi yang rapuh akan membuat bangunan perbankan syariah ikut rapuh.
Pendidikan, mencakup pengajaran, pembentukan moral, penelitian dan pengembangan, serta segala makna yang mungkin dikandung kata pendidikan, adalah isu yang sangat perlu diperhatikan di sektor perbankan syariah. Tidak bisa dipungkiri, teori dan praktek perbankan syariah saat ini banyak berangkat dari teori dan praktek perbankan konvensional.
Karena ingin mengajukan pinjaman untuk membeli kendaraan, akhirnya aku mendatangi bank-bank yang dekat dengan rumahku. Kebetulan di ruko dekat rumahku cukup lengkap banknya mulai dari yang konvensional sampai yang syariah.
Bill menuai sukses di bisnisnya saat menjual program DOS kepada IBM. Ajaibnya saat Bill menawarkan program DOS ke IBM, BIll bersama rekannya, Paul dan Steve sama sekali belum memiliki program itu dan lebih gilanya lagi..
KANGEN sekali saya dengan suasana seperti ini. Rendy, Putri, Shalma Alexa, Ahad Rifaldo dan teman-teman sebayanya tampak duduk lesehan dengan tertib di lantai mushalla. Wajah mereka terlihat ceria.