eramuslim

Iraq : Diambang Perang Saudara?

Bersamaan dengan penarikan pasukan AS dari kota-kota Iraq, 30 Juni kemarin, berlangsung perayaan di seluruh negeri, yang rakyat menyatakan dengan suka-cita, sebagai ‘Hari Kedaulatan’ nasional. Iraq merasa bebas dari penjajahan AS, yang selama bertahun telah dijajah oleh AS, dan mengakibatkan lebih satu orang tewas, dan jutaan lainnya telah meninggalkan negeri itu.

Penarikan pasukan AS ini adalah bagian perjanjian antara Pemerintah Iraq dan Pemerintah AS, di bawah Presiden George W. Bush, di mana di dalam perjanjian itu, menyebutkan pada 30 Juni 2009, pasukan AS harus keluar dari kota-kota Iraq. Sementara itu, dari Washington, Presiden Barack Obama, menegaskan, bahwa seluruh pasukan AS, Agustus 2010 harus sudah keluar dari Iraq. Berdasarkan perjanjian itu, pasukan AS, Desember tahun 2011, seluruhnya pasukan AS sudah harus sudah meninggalkan Iraq.

Kota-kota di Iraq, termasuk Bagdad, selama ini dipenuhi oleh tentara AS, dan mereka dengan senjata otomatis, disertai dengan tank-tank yang lalu-lalang, melakukan patrol di kota-kota Iraq. Tapi, kini terjadi perubahan drastis, di mana pasukan AS, meninggalkan kota-kota Iraq, dan hal ini seperti dikatakan, pejabat Pentagon, Joseph Mc.Millan, 29 Juni lalu. “Sekarang masuknya kembali tentara AS, harus melalui pemerintahan Iraq”, ucap Mc.Millan. Hal ini menjadi tantangan pasukan pemerintah Iraq, ketika tentara Iraq meninggalkan kota-kota Iraq.

Tapi, kenyataannya pasukan Iraq tidak cukup efetktif, khususnya menghadapi kekerasan, yang terus meningkat di seluruh Iraq, terutama di wilayah Utara Iraq, yaitu Mosul. Jumlah korban dalam 10 hari ini sudah mencapai 250 orang lebih. Belum lama ini, di Kirkuk terjadi ledakan yang dahsyat, di mana 27 orang seketika tewas, dan puluhan lainnya, mengalami luka-luka. Sekarang, tidak ada jeda, setiap hari terjadi ledakan, yang mengakibatkan korban. Nampaknya, konflik sectarian yang mengarah kepada perang saudara sulit dihindarkan.

Menjelang penarikan tentara AS dari Iraq, terjadi penyerangan, yang mengakibatkan 4 orang tentara AS tewas. Pasukan yang tergabung dalam pasukan multinasional, mereka tidak aman meninggalkan kota-kota di Iraq. Mereka menghadapi serangan dari berbagai kelompok pejuang di Iraq. Perdana Menteri Iraq, Nouri al-Maliki, menyatakan, ‘Salah mereka yang menganggap, pemerintah Iraq tidak dapat menjaga keamanan Iraq, sesudah tentara AS meninggalkan pusat-pusat kota’, ucap Maliki.

Kenyataannya, menjelang penarikna pasukan AS, tindak kekerasan justru semakin meningkat, seperti sebelum 30 Juni, terjadi bom mobil, yang menewaskan 250 orang, dan sebelumnya 20 Juni, bom mobil menewaskan 81 orang di luar Masjid di utara Iraq, dan bom mobil di pasar kota Bagdad, yang terjadi pada 24 Juni, menewskan 78 orang. Peristiwa kekerasan ini berlangsung, bersamaan dengan hari, di mana seluruh rakyat Iraq sedang merayakan ‘Hari Kedaulatan’ mereka.

Ini hanyalah menggambarkan 650.000 tentara Iraq, yang dibentuk oleh AS, yang diharapkan dapat mengamankan dan menciptakan stabilitas Iraq, nampaknya tak dapat berbuat banyak. Karena, di di dalam tubuh tentara Iraq, terbagi dalam faksi-faksi, yang menyebabkan melemahkan kekuatan militer Iraq.

Sekarang di Iraq, di saat militer AS, meninggalkan kota-kota Iraq, berbagai kekuatan para-militer dari berbagai faksi di Iraq, yang mendapatkan dukungan dari para mantan pengikut Saddam Husien akan ikut menciptakan ketidakstabilan. Karena, masuknya pasukan AS ke Iraq, tak lain, karena adanya pengkhianatan dari pasukan ‘Garda Republik’, yang Syiah, di mana mereka meninggalkan pasukannya, dan menolak bertempur. Inilah awal terjadinya malapetaka.

Kini, konflik antara pengikut Sunni dan Syiah di Iraq, sepertinya tak dapat dielakkan, karena berbagai kondisi, termasuk peran AS, yang memang menginginkan Iraq tidak stabil, dan penuh dengan kekerasan, sehingga pemerintah Iraq tetap bergantung terhadap AS. Kalangan Sunni, kawatir kelompok Syiah mendominasi angkatan bersenjata Iraq, sementara itu kelompok Syiah, takut dengan pemboman yang dilakukan oleh kelompok Sunni.

Sepertinya, konflik di Iraq tidak akan segera berakhir bersamaan dengan penarikan pasukan AS. Karena, pemerintah AS, sengaja meninggalkan ‘bom waktu’, dengan menyulut konflik Syiah dan Sunni. (m/jp/time)